Minggu, 26 Januari 2014

SIVA SIDDHANTA I (KELOMPOK)


TUGAS SIVA SIDDHANTA I
LINGGA

Dosen Pengampu        : I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H



  IHDN DENPASAR

OLEH KELOMPOK :
          PUTU NGURAH RESTIADA                       (10.1.1.1.1.3893)
          NI  KETUT MNARTINI DEWI                     (10.1.1.1.1.3894)
          NI KADEK BUDIANTARI                            (10.1.1.1.1.3895)
          DEWA AYU DEWI PURNAWATI                  (10.1.1.1.1.3896)
          PUTU CINTIA OKTARI DEWI                     (10.1.1.1.1.3997)
          I GEDE SULIARTAWAN                              (10.1.1.1.1.3998)
          KADEK RUSMINI                                        (10.1.1.1.1.3999)
          NI WAYAN MEGAWATI                               (10.1.1.1.1.3900)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
DENPASAR
2012



KATA PENGATAR
Om Swastyastu,
            Puja dan Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Hyang Maha Esa, karena berkat rahmat dan bimbingan-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah  yang berjudul Potensi-potensi Karya Kesusilaan/Ahlak tepat pada waktunya.
            Manusia memiliki potensi-potensi susila yang ada dalam dirinya. Potensi seyogyanya dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat.  
            Dalam makalah yang singkat ini, kami mencoba menguraikan tentang : Arti Potensi-potensi Karya Kesusilaan/Ahlak, Kelompok Kebajikan-Kebajikan Intelektual, Kelompok Kebajikan-Kebajikan Moral (Valutantif) dan Arti Kebajikan Induk/Kardinal. Namun karena keterbatasan kami, makalah ini jauh dari sempurna. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah kami selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna dan memenuhi fungsi sebagaimana mestinya.
Om Santih Santih Santih Om.

                                                                                              Singaraja,  April 2012

                                                                                                     Tim Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Lingga
2.2 Sejarah dan Asal Mula Lingga
2.3 Bentuk-bentuk Lingga
2.4 Jenis-jenis Lingga
2.5 Pemujaan terhadap Lingga
 
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
   Saiva Siddhanta adalah salah satu mazab dari sekte Saiva, yang berkembang di India dan di Indonesia. Mengutip dari yang ditulis oleh Haryati Soebandi (1971; 70) kata Siddhanta berarti (1) Svetarupa, (2) Sanghyang Aksobhya atau Sanghyang Kamoksan, (3) Sanghyang Sunya-Nirmala (Sastra, 2008; 191). Sedangkan kata Saiva berasal dari ajaran yang memuja dewa Siwa sebagai dewa yang utama, berarti sekte Saiva adalah kelompok atau kumpulan orang-orang yang memuja serta menempatkan Dewa Siva pada tempat yang utama. Jadi Saiva Siddhanta adalah ajaran untuk mencapai jalan menuju kepada Sang Pencipta, atau suatu jalan untuk bersatu dengan Sang Pencipta yang berasal dari Sekte Saiva. Dalam Saiva Siddhanta menyebutkan alam dunia berasal dari Maya (materi yang tidak murni, potensi alam semesta), yang merupakan kesatuan nyata yang abadi, diakui sebagai nyata adanya (Sastra, 2008: 192).
   Saiva Siddhanta yang pada awal mulanya berkembang di India, akhirnya berkembang pula di Indonesia terutama di Bali. Siwaisme yang eksis di Bali adalah bersumber dari salah satu sastra Hindu bernama Bhuwana Kosa. Bhuwana Kosa merupakan naskah tradisional Bali khususnya salah satu sumber pembangkit spiritual umat Hindu di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Karena Bhuwana Kosa merupakan intisari ajaran Weda yang isinya kaya dengan Siwaisme, terutama Saiva Siddhanta yang berkembang pesat di India selatan. Bhuwana Kosa dikatakan sebagai sumber suci pembangkit spiritual umat Hindu di Bali untuk umat Hindu secara umum maupun di kalangan orang suci (pandita atau sulinggih). Menjadi salah satu sumber suci bagi pemeluk Hindu di Bali, sekaligus cikal bakal dari sumber ajaran Hindu yang eksis sampai kini di Indonesia. (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita).
   Ajaran Saiwa Siddhanta di Indonesia merupakan kelanjutan dari ajaran Sekte Saiva Gama yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke 4. Namun dengan perpaduan antara konsep-konsep Saiva, Tantra, Buddha Mahayana, Trimurthi dan juga paham Waisnawa maka lahirlah konsep Saiva Siddhanta Indonesia. Adapun konsep ajaran Saiva Siddhanta Indonesia lebih banyak berpedoman pada konsep ajaran lokal serta ajaran yang telah berkembang sebelumnya seperti konsep Saiva, konsep Waisnawa, konsep Tantra, konsep Tri Murthi, bahkan konsep Buddha Mahayana yang kesemuanya dipadukan sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dituangkan ke dalam lontar-lontar yang kemudian menjadi dasar konsep Saiva Siddhanta Indonesia, konsep-konsep tersebut antara lain: Bhuana kosa, Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa, Sanghyang Mahajnana, Tattwajnana, dan Jnanasiddhanta. (Sastra, 2008: 193-194)
   Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa Saiva Sidhhanta menempatkan Siva sebagai realitas tertinggi. Salah satu sekte yang termasuk dalam sekte Saiva adalah sekte Pasupata yang juga menempatkan Siva sebagai realitas tertinggi. Sekte ini memiliki perbedaan dengan Saiva Siddhanta, tetapi ia merupakan bagian dari Saiva Siddhanta itu sendiri karena Saiva Siddhanta itu merupakan gabungan atau peluruhan dari semua sekte yang ada di Bali. Bedanya dengan Saiva Siddhanta adalah dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata adalah dengan menggunakan lingga sebagai simbol tempat turunnya/bersthananya Dewa Siva. Jadi, penyembahan lingga sebagai lambang Siva adalah merupakan ciri khas sekte Pasupata (Nurkancana, 1998; 135).
   Lingga merupakan lambang Dewa Siwa, yang pada hakekatnya mempuriyai arti, peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat. Di Indonesia khususnya Bali, walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak, akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya (http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1266&Itemid=29 diakses tanggal 29 April 2012 Pukul 08.36 Wita).

II. Rumusan Masalah
Berdasarkan atas latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan permasalahannya meliputi:
1. Apa pengertian dari lingga?
2. Bagaimana asal mula lingga?
3. Apa saja bagian-bagian dari lingga?
4. Apa saja jenis-jenis dari lingga?
5. Bagaimana bentuk-bentuk lingga?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tentang lingga
2. Untuk mengetahui asal mula adanya lingga
3. Untuk mengetahui bagian-bagian dari lingga
4. Untuk mengetahui jenis-jenis lingga
5. Untuk mengetahui bentuk daripada lingga



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Lingga
   Lingga merupakan lambang Dewa Siwa atau Tuhan Siwa, yang pada hakekatnya mempuriyai arti, peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat. (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita)
   Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000:601). Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali, bahwa lingga diidentikkan dengan: linggih, yang artinya tempat duduk, pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali, dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat di hampir semua kitab suci agama Hindu, malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa (Agastia, 2002 : 2). Kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu, lingga merupakan lambang kesuburan. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore, menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao, 1916 : 69). Di India terutama di India Selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte Linggayat (Putra, 1975 : 104) (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita).
   Mengenai pemujaan lingga di Indonesia, yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono, 1973 : 40). Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan, sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa, maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme), di Indonesia. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di Kanjuruhan, Jawa Timur. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. (Soekmono. 1973 : 41-42). Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers, 1959 102) (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita)..
  Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga, yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan, kesuburan dan sebagainya. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih, Pura-pura di Pejeng, di Bedahulu dan di Goa Gajah. (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita).
   Peninggalan purbakala berwujud Lingga banyak ditemukan di Bali dan Jawa, ada yang masih tetap difungsikan sebagai sarana pemujaan kepada Sang Hyang Siva (disucikan) dan ada yang ditempatkan sedemikian rupa tidak difungsikan lagi, karena umat Hindu setempat tidak mengenal lagi cara melakukan pemujaan melalui lingga. Pura Batumadeg, Besikalung, dan sejenisnya mengisyaratkan adanya pemujaan kepada Sang Hyang Siva melalui sebuah lingga. (Gunawan, 2012: 80).
  Dalam ikonografi Hindu, lingga sebagai lambang api ini identik dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki seorang raja. Lingga dalam perwujudannya sebagai lingodbhavamurti ini Siva digambarkan ke luar dari dalam lingga yang terbuka. Dalam bentuk relief umumnya digambarkan sebuah lingga dengan seekor angsa melayang di atasnya, agak ke bawah terpahat arca manusia berwajah babai hutan sedang mencari-cari (lingga) di tanah. Gambaran relief itu didasarkan pada kitab-kitab Purana, diantaranya adalah Kitab Lingga Purana, Vayu Purana, Brahmanda Purana, Kurma Purana, Siva Purana (Rudra Samhita), dan Skanda Purana. Cerita yang sama dapat juga dijumpai di Indonesia dalam kekawin Bhomantaka atau Bhomakavya dan Narakavijaya. (Gunawan, 2012: 80).
   Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai berikut:
 
“Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Gandhawarna rasairhinam sabdasparsadi warjitam”.

Terjemahan:
Lingga awal yang mula-mula tanpa bau, warna, rasa, pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam).

Jadi dalam Lingga Purana, lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa.  Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:

”Bhatara Siwalingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.

Terjemahan:
Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa.

Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Siwa (I Nyoman Dauh: http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1266&Itemid=29 diakses tanggal 29 April 2012 Pukul 08.36 Wita). (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita).

 2.2 Asal Mula Adanya Lingga
     Pemujaan kepada Sang Hyang Siva melalui Sivalingga banyak dilakukan oleh masyarakat zaman dahulu terutama oleh sekte Pasupata yang merupakan sekte pemuja Siva dengan menggunakan lingga sebagai sarana dalam pemujaan kepada Sang Hyang Siva. Hal ini terlihat dari banyaknya peninggalan purbakala berupa “Sailalingga” (lingga dari batu), permata, termasuk dalam bentuk sesajen (upakara) yang disebut “Dewa-Dewi” juga adalah penggambaran sebuah “lingga” (Gunawan, 2012: 75). Kitab-kitab Purana banyak memberikan gambaran tentang cerita maupun keutamaan yang diperoleh dari Sivalingga, Oleh karenanya Sivalingga dijadikan sarana sebagai objek pemujaan. Beberapa cerita penting tentang lingga, diuraikan sebagai berikut:
1). Kutukan Bhargava dan Angirasa.
    Siva mengembara ke seluruh penjuru dunia, meratap sedih atas kematian Satidevi pada saat berlangsungnya Yajna yang diselenggarakan oleh Daksa dan Kamadewa mengikuti dengan panah asmara untuk melepaskan penderitaan dan kesulitan Siva. Siva kemudian masuk ke dalam hutan Daru yang didiami oleh para maharsi beserta istri-istri mereka. Siva memberi penghormatan dan meminta punia kepada mereka, Tetapi para maharsi tidak menyukai kedatangan Siva dan tetap melanjutkan tapanya. Siva pergi meninggalkan tempat tersebut, tetapi istri-istri para maharsi itu banyak yang mengikuti Siva. Dibuat marah atas hal tersebut, para pertapa seperti Bhargava dan Angrasa mengutuk Siva bahwa phallusnya akan jatuh ke bumi. Phallus Siva jatuh dan menyebabkan kegoncangan pada dunia. Brahma dan Wisnu pun mengetahui dan segera datang ke tempat phallus itu terlentang. Wisnu sangat keheranan melihat phallus yang sedemikian panjangnya dan dengan mengendarai garuda turun pergi ke Patala. Brahma dengan kendaraannya, pergi ke arah atas. Brahma dan Visnu gagal dalam usaha menemukan ujung dari phallus tersebut kemudian memuja Siva dan memohon kepadaNya supaya phallusnya diambil kembali dari bumi. Siva meminta dengan tegas supaya para deva memuja phallusnya tersebut. Brahma dan Visnu pun menyetujui. Mahavisnu kemudian menciptakan Catur Varna, menciptakan berbagai sastra atau petunjuk sebagai petunjuk bagi masyarakat untuk memuja phallus atau lingga tersebut. Empat kitab sastra yang dikenal adalah: Sivam, Pasupatam, Kaladamanam, dan Kapalikam. Setelah melaksanakan semua seperti tersebut di atas, Visnu dan Brahma kembali, Siva mengambil kembali phallusnya (Vamana Purana 6) (Gunawan, 2012; 76-77).
2). Balakhilya.
    Delapan puluh delapan ribu Balakhilya lahir dari pikiran Brahma. Mereka menguruskan badan mereka dengan selalu mandi, melakukan puasa dan memuja Siva. Meskipun mereka memuja Siva sampai seribu tahun devata, Siva tidak pernah muncul di hadapan mereka. Parvati yang melihat hal tersebut bertanya kepada suaminya, Siva, mengapa tak datang memperlihatkan diri kepada mereka. Siva menjawab bahwa mereka (pertapa) belum memahami kebajikan, belum terbebas dari nafsu dan kemarahan. Siva pun menjelaskan kepada Parvati dengan pergi turun ke Bhalakilya menjelma menjadi seorang pemuda yang tampan, mengenakan kalung bunga Vanamala, membawa mangkuk untuk memperoleh dana punia di tangannya dan bertelanjang bulat. Para wanita Advaitin (pengikut Advaita) sangat tertarik oleh ketampanan pemuda tersebut (Siva) dan menanyakan tentang tapa apa yang telah dilakukan oleh pertapa muda tersebut. Pertapa (Siva) tidak memberi tahukan tentang tapanya dan hanya mengatakan ia telah melakukan tapa yang sangat rahasia. Para wanita yang penasaran serta terdorong oleh nafsunya, mencoba untuk merayu Siva. Hal itu diketahui oleh para pertapa serta marah kepada pertapa muda (Siva) tersebut. Salah satu pertapa ada yang memuluk phallus pertapa muda itu dengan tongkat dan batu hingga phallus itu jatuh ke tanah yang menyebabkan kegoncangan pada dunia. Siva pun menghilang dari tempat itu. Para pertapa kebingungan dan memohon perlindungan dari dewa Brahma. Merasa telah melakukan kesalahan, kebodohan serta ketidaktahuan, Brahma meminta kepada para pertapa untuk mendinginkan kemarahan serta menyenangkan hati Siva. Para pertapa pun memuja Siva, dan Siva datang memberikan petunjuk tentang pendirian lingga sebagai tempat pemujaannya. Atas bantuan dari Parwati pula, para pertapa berhasil bertemu Siva yang kemudian membantu mendirikan lingga di tepi sungai. Mereka semuanya, yang menyaksikan pendirian Lingga tersebut memperoleh kebebasan yang tertinggi. Ketika phallus (lingga) didirikan, Brahma juga membangun phallus yang lain dari batu. Setelah satu masa, phallus yang kedua menyatu dengan yang pertama dan memancarkan cahaya yang gemerlapan. Mereka yang melihat hal itu juga memperoleh kesempurnaan. Segera saja Brahma mendirikan lagi 7 lingga untuk menyenangkan hati para rsi, dan para rsi pun mencapai kebebasan yang tertinggi setelah mengurapi dirinya dengan debu lingga tersebut. Tempat lingga itu didirikan kini sangat popular dengan nama Sthanutirtha (Vamana Purana 45) (Gunawan, 2012; 78-79).
3). Bhahmasrsti.
   Pada awalnya Brahma memberikan kepercayaan kepada Siva untuk melaksanakan tugas penciptaan, dan untuk mendapatkan kekuatan penciptaan, ia tinggal di bawah air untuk beberapa generasi. Siva tidak kembali meskipun Braham telah lama menunggunya, akhirnya Brahma menciptakan para Prajapati dan mereka yang mengerjakan semua penciptaan itu. Selanjutnya setelah Siva memiliki semua kekuatan yang diinginkan, ia muncul kembali dari air. Siva ternyata sangat marah dan semua ciptaan ketika ia tidak ditempat dirusak, dan ia mencabut phallusnya dan melemparkannya ke atas bumi. ia berkata, sejak saat itu semua ciptaan ditangani oleh Brahma, ia selanjutnya tidak memerlukan phallus tersebut. Phallus yang dilemparkan oleh Siva menancap di Bumi dan tetap tinggal berdiri di sana. Nantinya, siva menari untuk memusnahkan para dewa. Akhirnya atas permohonan para dewa, Siva menyimpan api kemarahannya di dalam air. Api itulah yang mengeringkan air di lautan, sungai-sungai dan lain-lain. Ketika kemarahan Siva telah lenyap dan keadaan menjadi tenang, para dewa memuja phallus (lingga) yang menancap di tanah, dan karenanya pemujaan kepada lingga demikian populer (Mahabharata, Sauptikaparva 17) (Gunawan, 2012;79).


2.3     Bagian-bagian Lingga
Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai  simbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Jnana Siddhanta disebutkan:
“Pranalo Brahma visnus ca Lingotpadah Siwarcayet”.

Terjemahan:
Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber Siwa.

   Dalam bahasa Sansekerta pranala berarti saluran air, pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga, jadi lingga dan yoni. Kemudian lingga yoni, berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, di mana Siwa dinamakan lingga, sedangkan Brahma dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita).
   Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga, sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi, segi empat panjang, segi enam, segi delapan, segi dua belas, bulat, bulat telur, setengah bulatan, persegi enam belas dan yang lainnya. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao, 1916 :99). Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara), berbentuk telur (kukkutandakara), berbentuk buah mentimun (tripusha kara), berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara), berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao, 1916 : 93). (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita). (I Nyoman Dauh: http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1266&Itemid=29 diakses tanggal 29 April 2012 Pukul 08.36 Wita).

2.4     Jenis-Jenis Lingga
Berdasarkan penelitian dan TA. Gopinatha Rao, yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain :
1.      Chalalingga
2.      Achalalingga
2.4.1 Chalalingga
       Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak, artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah:
1) Mrinmaya Lingga
   Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat, yang prosesnya dengan cara dibakar. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu, tepung, gandum, serbuk cendana, menjadi adonan setelah beberapa lama disimpan lalu dibentuk sesuai dengan ketentuan, lalu dibakar.
2) Lohaja Lingga
   Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam, seperti : emas, perak, tembaga, logam besi, timah dan kuningan.
3) Ratmaja Lingga
   Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti, permata, mutiara, kristal, jamrud, waidurya, kwarsa, blue stone dan lain-lain.
4) Daruja Lingga
   Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami, tinduka, karnikara, madhuka, arjuna, pippala dan udumbara. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira, chandana, sala, bilva, badara, dan dewadara.
5) Kshanika Lingga
   Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam, beras, nasi, tanah pekat, rumput kurcha, janggery dan tepung, bunga dan rudrasha.
   Bahan dan pembuatan lingga erat kaitannya dengan tujuan dilakukannya pemujaan. Lingga yang terbuat dari emas bertujuan untuk mendapatkan kekayaan. Lingga yang terbuat dari nasi umumnya digunakan bila pemujanya mengharapkan makanan, terutama nasi. Adapun lingga tanah liat ditujukan untuk mendapatkan kekayaan, sedangkan lingga dari kotoran sapi digunakan untuk menghilangkan penyakit. Lingga dengan bahn dasar mentega umumnya memberikan suasana gembira. Pemuja lingga yang ingin mendapatkan umur panjang maka mengadakan pemujaan dengan menggunakan lingga yang terbuat dari bunga-bungaan. Untuk mendapatkan kebahagiaan lingga yang dipuja umumnya terbuat dari sadlewood. (Gunawan, 2012; 81-82).

2.4.2   Achala Lingga
       Achala Lingga merupakan lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani, kumpulan kuliah-kuliah agama jilid I”, menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga, lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga, lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi, lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T.A. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. II part I” dapat dijelaskan, sebagai berikut:
1) Svayambhuva lingga. Dalam mitologi, lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi, sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama). Atau dapat dikatakan “terjadi dengan sendirinya”.
2) Ganapatya lingga. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa, Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun, sitrun atau apel hutan.
3) Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas.
4) Daivika lingga. Lin/gga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang suci, dipakai oleh brahman).
5) Manusa lingga. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci, karena langsung dibuat oleh tangan manusia, sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar), Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama. (Putu Mudiantara http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/ diakses tanggal 22 April 2012 Pukul 15.39 Wita).
   Untuk manusalingga, ada pula yang memberikan pembagian berdasarkan cara pembuatannya yang terdiri dari beberapa bentuk, diantaranya adalah :
1).  Sarvadesika lingga. Jenis ini panjangnya ditentukan oleh perbandingan dengan sisi ruangan dalam candi. Lingga jenis ini ada 3 macam sesuai dengan besarnya. Pembagian terdiri atas uttama, yaitu 3/5 sisi ruangan, madhyama 5/9 sisi ruangan, dan adhama ½ sisi ruangan.
2). Sarvasama, jenis lingga yang perbandingan antara Rudrabhaga, Visnubhaga, dan Brahmabhaga sama tinggi.
3). Saivadhika, jenis lingga ini mempunyai perbandingan panjang, 2 bagian bawah sama panjang dan 1 bagian  (atas) lebih panjang. Perbandingan yang umum adalah 7:7:8, 5:5:6, dan 4:4:5.
4). Svastika, jenis lingga ini yang mempunyai proporsi semakin ke atas semakin panjang (bagian atas terpanjang) dengan perbandingan 2:3:4.
5). Varddhamana, jenis lingga degnan proporsi makin ke atas makin panjang dengan perbandingan 4:5:6, 5:6:7, dan 7:8:9.
6). Trairasika, jenis lingga yang mempunyai proporsi tinggi keseluruhan lingga dibagi 9, dengan ketentuanperbandingan antara Rudrabhaga: Visnubhaga; Brahmabhaga, 6:7:8 (Gunawan, 2012; 82-83).
   Manusalingga terbagi atas 3 bagian, yaitu : Rudrabhaga (lingga bagian atas) berpenampang garis lengkung, Visnubhaga (lingga bagian tengah) mempunyai bentuk segi-8 (octagonal), dan Brahmabhaga (lingga bagian bawah) mempunyai bentuk persegi. (Gunawan, 2012; 83).
   Puncak lingga (sirivartthana) jenis ini mempunyai beberapa macam bentuk, diantaranya bentuk chattrakara (bentuk payung), tripusakara (bentuk ketimun), kukkutaudakara (bentuk telur),  ardhacandrakara (bentuk bulan sabit), budolasadrisa (bentuk menggelembung). Pada puncak lingga ditemukan 2 garis vertical yang bertemu dengan 2 garis melengkung. Garis-garis tersebut dinamakan garis Brahmasutra. Jenis-jenis manusalingga yaitu:
(1). Astotarasata “108 lingga kecil”. Manusalingga jenis ini adalah lingga yang pujabhaga (permukaaan lingga)nya dibagi atas garis-garis vertikal dan horizontal, sehingga terlihat seperti dihiasi lingga-lingga kecil.
(2). Dhara, adalah lingga yang bagian pujabhaga-nya dihiasi garis-garis vertikal yang memanjang (fluted vertikal) sebanyak 50-60 buah. Kitab Suprabhedagama menjelaskan garis vertikal tersebut dapat saja berjumlah 5,7,9,12,16,20,24, maupun 28, sedangkan kitab Karanagama memberi ketentuan 16 buah garis.
(3). Sahasra, lingga jenis ini pujabhaga-nya dihiasi garis-garis vertikal dan horizontal. Bedanya dengan astottarasata, pada sahasra garis-garis horizontal dan vertikal itu tidak membentuk lingga-lingga kecil. (Gunawan, 2012; 83)

2.5 Bentuk-Bentuk Lingga
2.5.1 Mukhalingga
        Mukhalingga adalah salah satu bentuk lingga yang diberi hiasan berbentuk muka dewa. Hiasan muka tersebut bisa berjumlah 1, 2, 3, 4 atau 5 buah muka. Hiasan muka yang berjumlah 5 itu mengandung arti simbolik dari kelima aspek Siva, yaitu Sadyojata, Vamadeva, Aghoramurti, Tatpurusa dan Isana (Margaret Stutley, 1985: 94). Kelima aspek Siva itu juga berkaitan erat dengan lima unsur (panca maha bhuta), yaitu tanah, air, api, angin, dan udara (akasa). Kelima aspek Siva itu mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Sadyojata aspek Siva sebagai pencipta (dunia), Vamadeva aspek Siva sebagai pemelihara (dunia), Aghoramurti aspek Siva sebagai pemelihara (dunia), Tatpurusa aspek Siva sebagai pembasmi samsara, dan Sada Siva aspek Siva yang erat hubungannya dengan tujuan hidup, yaitu untuk mencapai moksa (Margaret Stutley, 1985; 107). Sebaliknya Gopinatha Rao (1968) menghubungkan kelima aspek Siva itu dengan; Samharamurti sebagai perusak, Anugrahamurti sebagai pemberi anugrah, Nrttamurti sebagai ahli tari, Daksinamurti sebagai ahli musik, filsafat dan Samadhi, dan Bhiksatamurti sebagai  “pengemis”. Selanjutnya kitab Skanda Purana menyebutkan warna masing-masing aspek siva tersebut yaitu: Sadyojata berwarna putih seperti kulit kerang atau bulan, Aghoramurti memeiliki warna yang menyerupai awan hitam, Vamadewa mempunyai warna kuning keemasan, Tatpurusa mempunyai warna kemilau, dan Sada Siva mempunyai warna putih (Margaret Stutley, 1985; 107).

2.5.2 Lingodhavamurti
       Salah satu bentuk perwujudan Siva yang sangat menonjol di India adalah lingga dalam perwujudannya sebagai Lingodhavamurti. Dalam perwujudan ini Siva digambarkan ke luar dari dalam sebuah lingga yang  terbuka. Dalam bentuk relief umumnya digambarkan sebagai sebuah lingga dengan seekor angsa terbang di atas lingga agak ke bawah terpahat arca manusia berwajah babi hutan sedang mencari-cari (lingga)  di bawah tanah. Bentuk lain penggambaran linodhavamurti berupa wujud Siva sedang ke luar dari dalam lingga yang terbuka. Di depannya digambarkan Visnu dan Brahma berdiri dalam sikap member hormat dalam sikap anjali. Gambaran pada relief ini didasarkan pada kitab-kitab Purana, diantaranya kitab Vayu Purana, Brahmanda Purana, Siva Purana (Rudra Samhita), dan Lingga Purana serta Skanda Purana. Dalam lingga Purana diceritakan bahwa para dewa dating bertanya pada Brahma awal mula lahirnya lingga, dan bagaimana Mahesvara dapat berada dalamnya. Brahma kemudian bercerita bahwa lingga adalah pradhana (alam), dan pemilik lingga adalah Dewa Tertinggi, Paramesvara. Kemudian Brahma juga menceritakan pertemuannya dengan Visnu serta kedatangan api lingga yang mempesona. Ia (Brahma) dan Visnu berusaha mencari ujung dan pangkal lingga, namun tidak berhasil. Dalam usaha pencarian itu, Visnu berubah menjadi babi hutan dan ia sendiri (Brahma) berubah menjadi seekor hamsa.

2.5.2.1 Lingodhavamurti dalam bentuk arca dan relief
      Kitab Amsumādbhědāgama menjelaskan salah satu penerapan kisah timbulnya  lingga dalam pahatan, yaitu dengan cara memahat tokoh Siva dalam bentuk Chandrasekhamūrti di bagian depan (permukaan) sebuah lingga. Keterangan ini diperjelas oleh kitab Karanagama. Menurut  kitab ini seperlima ujung dan dasar lingga sebaiknya dibiarkan polos, tanpa pahatan. Kaki di bawah lutut  tokoh Siva tidak ada. Sebelah kanan lingga dekat ujung (puncak) lingga dipahat Brahma dalam bentuk seekor angsa, sementara Visnu dalam bentuk seekor babi hutan dipahat pada bagian kiri kaki lingga. Dapat pula tokoh Brahma dan Visnu dipahat di atas kanan dan kiri menghadap lingga dengan tangan dalam sikap anjali. Tokoh-tokoh ini dapat pula diberi warna, warna untuk tokoh Siva merah, Visnu hitam, dan Brahma kuning keemasan. Keterangan yang lebih rinci terdapat dalam kitab Kamikagama. Menurut kitab ini ukuran angsa ditetapkan sama panjang dengan wajah Siva. Tokoh babi hutan digambarkan sedang menggali dan masuk ke dalam bumi. Tokoh Visnu dan Brahma dalam bentuk kedewaan tidak perlu dipahatkan, sedangkan angsa dan babi hutan harus dipahatkan.
   Kitab Silparatna menambahkan bahwa Siva membawa sula pada salah satu tangannya. Kitab Karanagama mengharuskan memahat tokoh Siva dalam bentuk Chaturbhuja dengan ketentuan salah satu tangannya digambarkan dalam sikap abhaya, dan salah satu tangan lainnya dalam sikap varadahasta. Tangan ketiga membawa parasu dan tangan keempat memegang krsnamrga (seekor rusa jantan berwarna hitam). Siva dipahat dengan hiasan mahkotanya berbentuk hiasan bulan sabit. Beberapa bentuk perwujudan Lingodbhavamurti yang ada di India telah ditelaah Gopinatha Rao dalam bukunya Elementa of Hindu Iconography, diantaraya 1. Lingodbhavamurti yang ditemukan dalam candi Kailasanathasvami di Conjeevaram yang umurnya lebih dari 1200 tahun lalu. Tokoh Siva digambarkan dalam bentuk Siva Candrase kharamurti bertangan delapan. Beberapa dari kedelapan tangan digambarkan membawa parasu, sula, aksamala, dalam sikap abhaya dan katyavalambita. Keterangan selanjutnya, bahwa seperlima bagian ujung lingga sebelah kirii tidak  ada pahatan, demikian juga dari lutut ke bawah tokoh Siva.
   Siva digambarkan mengenakan hiasan bulan sabit pada mahkotanya. Babi hutan sebagai avatara Visnu digambarkan ertangan empat, dua buah tangan sedang menggali bumi, dua buah tangan lainnya digambarkan membawa sankha dan cakra. Menurut kitab Agama, babi hutan juga dapat dipahatkan seakan keluar dari dasar ruang panil. Brahma digambarkan terbang di udara di ujung lingga dalam bentuknyas sebagai seekor angsa. Tokoh Visnu dan Brahma juga dipahatkan dalam bentuk caturbhuja dikanan kiri lingga. Visnu dan Brahma digambarkan dalam sikap memuja (sebuah tangan dalam sikap memuja, sebuah diletakkan di atas pinggul masing-masing, dan tangan-tangan yang lain membawa laksana masing-masing). Pada puncak relung dipahatkan makara-torana. Selain di candi Kailasanathasvami, relief lingodbavamurti, kita temukan juga didalam candi Siva Ambar Magalam. Disini lingga, digambarkan dengan untaian bunga berbentuk lingkaran keluar dari atas puncak lingga. Tokoh Siva digambarkan dalam bentuk caturbhuja, sebuah tangan dalam sikap abhaya, tangan lainnya dalam sikap katyavalambita, membawa parasu dan rusa jantan hitam. Kaki-kaki tokoh Siva dibawah lutut dan diatas pergelangan kaki dipahatkan bertentangan dengan praturan yang ditetapkan dalam kitap agama, yaitu sebuah kaki disembunyikan dalam lingga. Diatas lingga tergambar angsa dengan paruh yang sangat menonjol. Dibawah sebelah kiri lingga babi hutan yang diwujudkan dalam bentuk setengah manusia dan setengah binatang sedang menggali lubang di bawah bumi. Menurut perkiraan relief lingodbavamurti ini berasal dari abad 11 atau 12 masehi, yaiti periode pertengahan Chola.

Puja terhadap Siva Lingga
   Upacara puja lingga atau lebih dikenal sebagai Nitya-Puja dapat berupa Abhiseka, yaitu membasahi lingga dengan cairan berupa air kelapa, madu, air gula, susu sdan sebagainya. Pujaan terhadap lingga dapat pula dilakukan dengan memberi dupa, membakar kayu wangi, lepa dan sebagainya. Selain memberi dupa dapat pula berupa persembahan Naivedya, yaitu upacara pemberian aneka makanan bagi sang lingga. Usai upacara semua makanan dibagikan pada yang hadir untuk di santap bersama. Puja terhadap lingga dapat pula dilakukan di dalam Garbhagrha dengan meletakkan lampu dan untaian bunga atau bunga-bunga lepas. Dalam upacara besar selain menggunakan bunga dan lampu, juga dipersembahkan musik dan tari. Penarinya seorang Devadasis (deva = dewa; dasi = abdi), yaitu seorang wanita cantik yang telah mendapat latihan menari sesuai dengan aturan-aturan puja.
   Dalam kitab manasara disebutkan bahwa “di india lingga atau phalli mempunyai banyak sebutan, diantaranya Siva, pasupata, kalamukha, mahavrata, vama, dan bhairava”. (Manasara LII:2-3). Untuk kumpulan lingga mendapat sebutan samakarmna, vardhamamana, Sivanka, dan svastika. Yang masing-masing merupakan media pemujaan untuk kaum brahmana, ksatrya, vaisya, dan sudra. (Manasana LII: 4-5). Sebagai simbol Siva, lingga merupakan aspek skunder dari lambang kelaki-lakian Siva yang baru akan menimbulkan tenaga atau energi setelah bersatu dengan yoni, yaitu lambang kewanitaan sakti Siva yaitu Parvati. Lingga merupakan lambang api, sebagai manisfestasi dari kekuatan atau kekuasaan, sedangkan yoni merupakan lambang bumi. Kedua sifat itu saling bertolak belakang, namun bila keduanya bersatu akan melahirkan kekuatan atau energi. Itulah makna pertemuan antara lingga dan yoni.

BAB III
PENUTUP

Simpulan
            Lingga merupakan lambang Dewa Siwa atau Tuhan Siwa, yang pada hakekatnya mempuriyai arti, peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 :601). Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali, bahwa lingga diidentikkan dengan : linggih, yang artinya tempat duduk, pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali, dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa.
            Pemujaan kepada Sang Hyang Siva melalui Sivalingga banyak dilakukan oleh masyarakat zaman dahulu terutama oleh sekte Pasupata yang merupakan sekte pemuja Siva dengan menggunakan lingga sebagai sarana dalam pemujaan kepada Sang Hyang Siva. Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai  symbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.


DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, I Ketut Pasek. 2012. Sivasiddhanta 1. Singaraja: Tidak diterbitkan.
Nurkancana, I Wayan. 1998. Menguak Tabir Perkembangan Hindu. BP; Denpasar
Sastra, Gede Sara. 2008. Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini. Denpasar: Pustaka Bali Post
http://fantasticyantha.wordpress.com/2010/01/22/filsafat-saiva-siddhanta/
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1266&Itemid=29

SIVA SIDDHANTA I (INDIVIDU 2)



SIVA SIDDHANTA

Dosen Pengampu : I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H




IHDN DENPASAR



Oleh:

KADEK RUSMINI
10.1.1.1.1.3899


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
DENPASAR
2012





TUGAS 2
(Kristalisasi Sekte-Sekta Dalam Panca Yadnya)

Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12). Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta. Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.
Sekte Siwa memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya. Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan. Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme. Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Brahma, Wisnu dan dewa-dewa lainnya tetap dipuja sesuai dengan tempat dan fungsinya, karena semua dewa-dewa itu tidak lain dari manifestasi Siwa sesuai fungsinya yang berbeda-beda. Siwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.
Sekte Pasupata juga merupakan sekte pemuja Siwa. Bedanya dengan Siwa Sidhanta tampak jelas dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata dengan menggunakan Lingga sebagai simbol tempat turunnya/berstananya Dewa Siwa. Jadi penyembahan Lingga sebagai lambang Siwa merupakan ciri khas sekte Pasupata. Perkembangan sekte Pasupata di Bali adalah dengan adanya pemujaan Lingga. Di beberapa tempat terutama pada pura yang tergolong kuno, terdapat lingga dalam jumlah besar. Ada yang dibuat berlandaskan konsepsi yang sempurna dan ada pula yang dibikin sangat sederhana sehingga merupakan lingga semu. Lingga yang ada merupakan lambang purusa dan pradana, kristalisasinya dalam upacara manusia yadnya.
Adanya sekte Waisnawa di Bali dengan jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi Agama Hindu di Bali tentang pemujaan Dewi Sri. Dewi Sri dipandang sebagai pemberi rejeki, pemberi kebahagiaan dan kemakmuran. Di kalangan petani di Bali, Dewi Sri dipandang sebagai dewanya padi yang merupakan keperluan hidup yang utama. Bukti berkembangnya sekte Waisnawa di Bali yakni dengan berkembangnya warga Rsi Bujangga. Dalam upacara panca yadnya seperti pada tumpek wariga atau tumpek bubuh, pemujaannya kepada tumbuhan yang memberikan kemakmuraan. Serta penggunaan tirta, arak, tuak dalam setiap upacara panca yadnya.
Adanya sekte Bodha dan Sogatha di Bali dibuktikan dengan adanya penemuan mantra Bhuda tipeyete mentra dalam zeal meterai tanah liat yang tersimpan dalam stupika. Stupika seperti itu banyak diketahui di Pejeng, Gianyar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. W.F. Stutterheim mentra Budha aliran Mahayana diperkirakan sudah ada di Bali sejak abad ke 8 Masehi. Terbukti dengan adanya arca Boddhisatwa di Pura Genuruan, Bedulu, arca Boddhisatwa Padmapani di Pura Galang Sanja, Pejeng, Arca Boddha di Goa Gajah, dan di tempat lain.
Sekte Brahmana menurut Dr. R. Goris seluruhnya telah luluh dengan Siwa Sidhanta. Di India sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yang bersumberkan Manawa Dharmasastra merupakan produk dari sekte Brahmana.
Mengenai sekte Rsi di Bali, Goris memberikan uraian yang sumir dengan menunjuk kepada suatu kenyataan, bahwa di Bali, Rsi adalah seorang Dwijati yang bukan berasal dari Wangsa (golongan) Brahmana. Istilah Dewarsi atau Rajarsi pada orang Hindu merupakan orang suci di antara raja-raja dari Wangsa Ksatria. Dan dalam upacara panca yadnya sekta brahmana di kristalisasikan sebagai pemimpin dalam melaksanakan upacara panca yadnya.
Pemujaan terhadap Surya sebagai Dewa Utama yang dilakukan sekte Sora, merupakan satu bukti sekte Sora itu ada. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam menjadi ciri penganut sekte Sora. Pustaka Lontar yang membentangkan Suryasewana ini juga terdapat sekarang di Bali. Selain itu yang lebih jelas lagi, setiap upacara agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang memberikan persaksian bahwa seseorang telah melakukan yajnya.
Sekte Gonapatya adalah kelompok pemuja Dewa Ganesa. Adanya sekte ini dahulu di Bali terbukti dengan banyaknya ditemukan arca Ganesa baik dalam wujud besar maupun kecil. Ada berbahan batu padas atau dai logam yang biasanya tersimpan di beberapa pura. Fungsi arca Ganesa adalah sebagai Wigna, yaitu penghalang gangguan. Oleh karena itu pada dasarnya Ganesa diletakkan pada tempat-tempat yang dianggap bahaya, seperti di lereng gunung, lembah, laut, pada penyebrangan sungai, dan sebagainya. Setelah zaman Gelgel, banyak patung ganesha dipindahkan dari tempatnya yang terpencil ke dalam salah satu tempat pemujaan. Akibatnya, patung Ganesa itu tak lagi mendapat pemujaan secara khusus, melainkan dianggap sama dengan patung-patung dewa lain.
Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakaman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Begitu pula pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa. Dalam kristalisasinya sekta ini dalam upacara panca yadnya dengan menggunakan daging, dan darah. Dalam Hari Raya Suci di Bali seperti Galungan, sehari sebelumnya melaksanakan acara penampahan dengan memotong babi/ayam yang digunakan sebagai lambang kemenangan atas dharma melawan adharma. Dan penggunaan hewan kurban dalam upacara yadnyanya. Sekte ini menjadi satu sekte wacamara (sekte aliran kiri) yang mendambakan kekuatan (magic) yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Ajaran Sadcakra, yaitu enam lingkungan dalam badan dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia juga bersumber dari sekte ini.
Pada tahun Saka 910 (988 M), Bali diperintah raja Dharma Udayana. Permaisurinya berasal dari Jawa Timur bernama Gunapria Dharmapatni (putri Makutawangsa Whardana). Pemerintahan Dharma Udayana dibantu beberapa pendeta yang didatangkan dari Jawa Timur. Antara lain Mpu Kuturan. Mpu Kuturan diserahi tugas sebagai ketua majelis tinggi penasehat raja dengan pangkat senapati, sehingga dikenal sebagai Senapati Kuturan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebelum pemerintahan suami istri Dharma Udayana/Gunapria Dharmapatni (sejak awal abad ke 10), di Bali telah berkembang berbagai sekte. Pada mulanya sekte-sekte tersebut hidup berdampingan secara damai. Lama-kelamaan justru sering terjadi persaingan. Bahkan tak jarang terjadi bentrok secara fisik. Hal ini dengan sendirinya sangat menganggu ketentraman Pulau Bali. Sehubungan dengan hal tersebut, raja lalu menugaskan kepada Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan itu. Atas dasar tugas tersebut, Mpu Kuturan mengundang semua pimpinan sekte dalam suatu pertemuan yang dilakukan di Bataanyar (Samuan Tiga). Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.



DAFTAR PUSTAKA

Pasek Gunawan, I Ketut. 2012. Sivasiddhanta 1. Singaraja
Bansi Pandit, 2006. Pemikiran Hindu: Pokok-Pokok Pikiran Agama Hindu Dan Filsafatnya, Surabaya:Paramita.

SIVA SIDDHANTA I (INDIVIDU 1)



SIVA SIDDHANTA

Dosen Pengampu : I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H




IHDN DENPASAR



Oleh:

KADEK RUSMINI
10.1.1.1.1.3899


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
DENPASAR
2012



TUGAS 1
(Filosofis Dewa Siwa)

Kata Siva berarti : yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya (monier, 1990:1074)
Dewa Siva adalah anggota ketiga dari Trimurti Hindu. Dewa Siva melambangkan aspek dari kenyataan yang Mutlak (Brahman dalam Upanisad) yang secara terus menerus menciptakan kembali, dalam siklus proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan dan penciptaan kembali. Ia menghilangkan kejahatan, menganugerahkan anugerah, memberikan berkah, menghancurkan ketidakperdulian, dan membangkitkan kebijaksanaan pada pemujanya. Karena tugas dari dewa Siva sangat banyak. Ia tidak dapat dilambangkan dalam satu bentuk. Untuk alasan ini patung Siva sangat beragam dalam bentuknya. Perlambangan yang dibahas disini termasuk di dalamnya beberapa simbol utama yang umum dalam gambar dan patung yang dipuja oleh Hindu.
Dalam patungnya, dewa Siva digambarkan dalam bentuk manusia, tubuhnya telanjang dan dipenuhi dengan abu. Tubuh yang telanjang melambangkan bahwa ia bebas dari keterikatan pada benda material di dunia. Karena kebanyakan benda-benda akan menjadi abu ketika dibakar, abu melambangkan intisari dari semua benda dan mahluk di dunia. Abu pada tubuh dewa melambangkan bahwa ia adalah sumber dari seluruh penciptaan yang berasal dari dalam dirinya.
Dewa Siva memiliki tiga mata. Dua matanya pada bagian kiri dan kanan melambangkan aktifitas fisiknya di dunia. Yang ketiga dipusat dahinya yang melambangkan pengetahuan (jnana), dan ini disebut dengan mata kebijaksanaan atau pengetahuan. Kekuataan pandangan mata ketiga Siva menghancurkan kejahatan, dan ini adalah alasan mengapa orang berbuat kejahatan sangat takut dengan mata ketigaNya.
Kekuatan penghancur Siva dilambangkan oleh ular di sekitar lehernya. Dalam berbagai gambar Siva digambarkan memegang Trisula di tangan belakang. Dalam gambar lain sebuah Trisula diperlihatkan berdiri tegak disampingnya. Sebuah Trisula memiliki tiga ujung, yang menandakan tiga sifat alam: sattva (keaktifan), rajas (kegiatan), dan tamas (ketidak aktifan). Trisula melambangkan bahwa dewa jauh dari jangkauan ketiga sifat alam ini. Trisula juga melambangkan senjata yang digunakan dewa untuk menghancurkan kajahatan dan ketidakperdulian di dunia.
Sebuah damaru (kendang kecil) yang menghasilkan suara yang bergetar. Seperti yang disebutkan dalam kitab Hindu suara yang bergetar dari suku kata Om yang suci dipercaya sebagai sumber dari penciptaan. Sebuah damaru pada salah satu tangan mengandung makna bahwa ia menyangga seluruh ciptaannya di tangannya, mengatur sesuai dengan keinginannya. Karena harimau meyimbolkan kekuatan, kulit harimau yang menjadi tempat duduk dewa melambangkan bahwa ia sumber dari kekuatan yang pasti yang ia kendalikan sesuai dengan keinginannya. Bulan sabit yang terlihat pada kepala dewa sebagai hiasan, dan bukan menjadi bagian daritubuhnya. Pembahasan dan pengecilan bulan melambangkan siklus waktu dimana penciptaan ada didalamnya dari awal sampai akhir dan kembali ke awal lagi. Karena tuhan adalah kenyataan yang abadi, bulan sabit hanyalah hiasan dan bukan bagian penting dirinya.
Bulan juga melambangkan sifat hati seperti cinta, kebaikan, dan kasih. Bulan sabit yang dekat dengan kepala dewa memiliki makna bahwa seorang pemuja harus mengembangkan sifat-sifat ini agar dapat lebih dekat dengan dewa.
Siva digambarkan duduk dikuburan, yang melambangkan kemutlakannya untuk mengendalikan kelahiran dan kematian. Seekor sapi, yang dikenal dengan nama Nandi, yang dihubungkan dengan Siva dan dikatakannya sebagai kendaraannya. Sapi jantan ini melambangkan kekuatan dan ketidakperdulian. Siva mengendarai sapi menandakan bahwa Siva menghilangkan ketidakperdulian dan menganugerahkan kekuatan kebijaksanaan pada pemujanya. Sapi dalam bahasa Sanskrtanya Vrsa. Dalam bahasa Sanskrta, Vrsa juga berarti Dharma (kebenaran). Sehingga sapi disamping Siva melambangkan persahabatan abadi dengan kebenaran. Nandi juga melambangkan kesadaran seorang (srsta purusa) atau manusia yang sempurna, yang terserap secara permanen dalam pandangan kenyataan.
Definisi Siva lainnya mengatakan ciri-ciri Dewa Siva yaitu memiliki rambut ikal yang digelung, berwarna merah. Siva dikenal dengan nama Kapardi, karena memiliki rambut merah yang ikal dan digelung tersebut. Siva juga ditanyakan sebagai agni. Siva menghancurkan segalanya membawa trisula, selanjutnya yang lain disebut pinaka, oleh karena itu siva disebut juga dengan nama pinakapani (yang memegang pinaka di tangannya). Baik siva maupun kendaraannya, nandini berwarna putih. Warna putih menunjukkan kekuasaan untuk mengawasi proses peleburan kembali. Juga membawa tongkat yang dinamakan khatvanga, busur bernama Ajagava, seekor menjangan, tasbih, tengkorak, damaru (gendang kecil) dan benda-benda suci lainnya. Ganga (dewi ganga) dan Ardhacandra (bulan sabit) bertengger pada kepalanya, oleh karena itu disebut juga gangadhara dan Candracuda. Kalungan bung yang terbuat dari untaian tengkorak manusia melingkar dilehernya. Siva mengenakan bhusana (kain) dari kulit macan dan kulit gajah untuk selimut (blanket)nya. Dilengannya bergelayutan beberapa ekor ular sebagai hiasan. Di dalam kitab-kitab purana kita mendapatkan informasi tentang sang hyang siva memperoleh berbagai phiasan tersebut. Istri para rsi terpikat kepada siva, yang sekali waktu tampil dengan mengenakan pakaian seperti peminta-minta. Para rsi sangat marah terhadap siva atas penampilannya itu dan ingin membunuhnya. Dari lubang yang digali, muncul seekor harimau. Siva membunuh harimau itu dan mengambil kulitnya. Seekor menjangan mengikuti harimau muncul dari lubang itu. Siva memegang binatang itu dengan tangan kirinya. Selanjutnya muncul dari lubang itu tongkat besi panas berwarna merah. Siva mengambil tongkat itu dan menjadikan senjatanya. Terakhir dari lubang muncul beberapa ekorular kobra dan siva mengambil ular dan mengenakannya sebagai hiasannya. Suatu hari raksasa bernama gaya menyamar dalam wujud seekor gajah dan menangkap seorang pandita yang melarikan diri dan memohon perlindungan disebuah pura siva. Siva muncul dan membunuh gajah tersebut kemudian mengambil kuliatnya dikenakan dibadannya. Suatu hari siva mengenakan beberapa ekor ular sebagai anting-antingnya oleh karena itu ia dikenal dengan nama nagakundala. Brahma meminta kepada rudra menciptakan manusia, dan permintaan itu dipenuhinya tetapi manusia ciptaannya menjadi manusia yang sangat bengis. Brahma khawatir terhadap mahluk itu akan memakan mahluk-mahluk lainnya. Brahma yang gemetar karena ketakutan meminta kepada rudra untuk menghentikan penciptaan manusia itu dan meminta menciptakan yang lain. Selanjutnya rudra mulai mempraktekkan tapa.
Pemujaan terhadap Siva sangatlah terkenal diantara orang Hindu, terutama diantara Pasupata, Saivis, Kaladamana, dan tradisi Kapalika. Sivaratri Siva adalah perayaan tahunan Hindu. pada hari ini Siva dan pasangannya Parvati dipuja di rumah-rumah dan kuil.
Siva juga disebut dengan nama lain seperti Sankara, Mahadeva, Rudra, Isvara, dan Nilakantha. Terdapat banyak kuil yang ditujukan kepada dewa Siva di semua tempat di India. Kuil berikut ini adalah tempat suci yang paling terkenal di India : Amaranath (Kashmir), Kendranath (Himalaya), Eklingaji (dekat Udaipur), Bishvesvar (Benares), Tarakeshvar (Bengali Tengah), Bhuvaneswar (Orissa), Somnath (Kathiawar), juga Conjeeveram, Jambukeshvara, Tiruvannamalai, Kalahasii, dan Chidambaram di India Selatan.



DAFTAR PUSTAKA

Pasek Gunawan, I Ketut. 2012. Sivasiddhanta 1. Singaraja
Bansi Pandit, 2006. Pemikiran Hindu: Pokok-Pokok Pikiran Agama Hindu Dan Filsafatnya, Surabaya:Paramita.

JURNALISTIK (KELOMPOK ARTIKEL)


PENDIDIKAN AGAMA MENGURANGI KENAKALAN REMAJA USIA SEKOLAH

Agama Hindu tidak hanya diterapkan pada sekolah saja, tetapi diterapkan pula di luar sekolah. Jika dilihat pada dewasa ini pengaruh globalisasi sangat mempengaruhi berbagai aspek sosial. Salah satunya perkembangan remaja bisa ke arah positif maupun ke arah negatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja ke arah positif yaitu memanfaatkan internet sebagai tempat mencari informasi, handphone sebagai alat untuk berkomunikasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja ke arah negatif yaitu pergaulan bebas, penggunaan internet dan handphone yang semestinya berfungsi sebagai alat komunikasi dan informasi dalam segala aspek yang menyangkut tentang pendidikan. Khususnya dalam mencari tugas-tugas sekolah dan mencari hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama seperti men-download lagu, games, films dan lain-lain.
Sisi lain masih banyak remaja yang mengabaikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pada ajaran Tri Kaya Parisudha ditekankan setiap orang semestinya berpikir, berkata dan berbuat yang baik. Namun sebaiknya banyak remaja yang berkata, berbuat dan berpikir yang tidak baik dalam artian para remaja berkata dan berbuat tanpa berpikir terlebih dahulu. Inilah yang menyebabkan para remaja mengalami banyak masalah dan konflik seperti tawuran atau pertengkaran. Hal-hal inilah yang harus dipikirkan dan direnungkan agar kenakalan-kenakalan remaja bisa diminimalisir melalui pendidikan agama.
Contohnya: di dalam keluarga orang tua harus memperhatikan dan membimbing anaknya ke arah lebih religius dan menerapkan pendidikan agama dirumah. Lingkungan juga akan mempengaruhi perkembangan remaja. Seharusnya masyarakat bisa lebih memperhatikan tindakan remaja yang negatif ke arah yang positif. Sekolah menjadi sarana yang sangat penting untuk meminimalisir kenakalan remaja. Hal ini disebabkan karena di sekolah sudah disediakan berbagai fasilitas yang positif untuk menyalurkan bakat-bakat remaja yang diimbangi dengan pendidikan akademik seperti halnya dengan pendidikan agama. Maka dari itu pendidikan agama sangat berperan penting dalam perkembangan remaja di era globalisasi.


Objektif : berdasarkan fakta, tidak memihak. Apa yang diuraikan dalam artikel merupakan fakta yang terjadi sekarang dikalangan remaja di masyarakat. Dan kenakalan remaja itu dapat diminimalisir dengan mengamalkan ajaran agama.
Penokohan : Generasi muda
Alur : maju
Makna : Dengan mempelajari agama diharapkan generasi muda mampu meminimalisir kenakalan remaja karena dalam agama sudah diatur apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

JURNALISTIK (LAPORAN PKM)


Laporan Kegiatan PKM



IHDN DENPASAR




Oleh:
KADEK RUSMINI
10.1.1.1.1.3899




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
DENPASAR
2013


Kegiatan PKM Bulan September

Bulan September adalah bulan ke dua saya Praktek Kemampuan Mengajar di SMK Negeri 3 Singaraja. Banyak kegiatan yang telah saya lalui dari awal sampai sekarang. Hingga akhirnya jadwal UTS (ujian tengah semester) untuk siswa STEMSI datang, dari tanggal 9 September sampai 21 September yang dibagi atas Blok Ganjil dan Blok Genap. Blok Ganjil dimulai dari tangggal 9 September sampai 14 September dan Blok Genap dimulai dari tanggal 16 sampai 21 September. Kelas yang saya ajar berjumlah 5 kelas diantaranya XII TAV1, XII TGB1, XI TAV1, XI TGB1, dan X TKBB2. Pelaksanaan UTS pertama di kelas XII TGB1 hingga terakhir di kelas X TKBB2.
UTS telah selesai dilaksanakan selanjutnya memerikasa dan memberikan penilaian belajar selama setengah semester. Diantara 5 kelas yang saya ajar ada beberapa siswa yang remidi karena tidak memenuhi standar KKM (kriteria ketuntasan minimal) untuk kelas X yaitu 76, kelas XI dan XII yaitu 79. Kelas yang remidi yaitu XII TGB1 berjumlah 2 orang, XI TGB1 berjumlah 7 orang, dan X TKBB2 3 orang. Siswa-siswa yang remidi dilaksanakan setelah UTS disesuaikan dengan kelas tersebut. Selanjutnya saya membuat analisis penilaian dan memberikan penilaian yang dikumpul pada guru pamong dan selanjutnya ke wali kelas untuk pengisian rapor hasil belajar setengah semester ini.
Untuk mengisi kegiatan akhir semester dilaksanakan pementasan seni teater, musik dan seni suara untuk masing-masing kelas untuk menilaian seni budaya. Kegiatan ini sangat ditunggu-tunggu oleh siswa karena setelah belajar selama tiga bulan kini mereka bias terhibur dengan adanya kegiatan ini. Dan disisi lain mereka bias menunjukkan keterampilan mereka diluar pengetahuan di dalam kelas. Siswa kelas X menampilkan teater dengan judul yang sudah diberikan oleh guru penilai, kemudian kelas XI manampilkan atraksi kecak dengan cerita Ramayana, dan kelas XII menampilkan paduan suara dengan lagu wajib mars STEMSI serta satu lagu bebas. Sebenarnya kelas XII diwajibkan mengikuti kegiatan Study Tour ke tempat-tempat industri di Jawa namun ada beberapa dan bahkan sebagian kelas XII tidak ikut Study Tour. Kegiatan jeda semester dimulai dari tanggal 25 September sampai 28 September. Dan kebetulan saya diminta bantuan oleh kelas X TGB3 untuk membantu membimbing teater dikelas mereka oleh ketua kelasnya. Judul teater mereka “Jalan Pulang” yang meceritakan kisah dunia malam di club malam yang dipentaskan pada hari kamis tanggal 26 September. Kegiatan pementasan ini berlangsung selama 3 hari, dan hari terakhir diisi dengan acara bebas seperti dance, karaoke, band, dan lain-lain. Sebelum acara bebas dilaksanakan, pada hari sabtu bersamaan dengan tumpek Uduh/Bubuh/Pengatag yang jatuh pada wuku Wariga. Semua siswa, guru dan pegawai SMK N 3 Singaraja mengadakan persembahyangan bersama di Padmasana. Setelah itu baru acara pementasan hiburan di lapangan basket. Acara berlangsung hingga pukul 12.00 wita sebelum pulang siswa dikumpulkan dan dibagikan rapor sementara untuk nilai UTS dan surat pemberitahuan untuk orang tua.
Sekian pemaparan kegiatan PKM saya selama bulan September di SMK Negeri 3 Singaraja yang sangat berkesan dan cukup menyenangkan bagi saya.